Tampilkan postingan dengan label biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label biografi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 September 2017

Biografi Dedi Mulyadi Bupati Purwakarta

By tri nandar | At 02.23 | Label : | 0 Comments


Biografi Dedi Mulyadi

Dedi Mulyadi Bupati Purwakarta
Dedi Mulyadi - Bupati Purwakarta
Pejalanan Dedi Mulyadi dari SD sampai Menjadi Bupati Purwakarta

Dedi Mulyadi ialah Bupati Purwakarta yang menjabat selama 2 periode , periode pertama pada tahun 2008-2013 dan periode kedua pada tahun 2013-2018. Beliau lahir di desa Sukasari kabupaten Subang tanggal 11 April 1971. Ayahnya ialah pensiunan tentara yaitu Sahlin Ahmad Suryana. Ibunya berjulukan Karsiti , Ibunya lah yang berjuang keras menyekolahkannya sebab ayahnya pensiun dini , penyebabnya ialah sebab diracuni dan meniggal pada usia muda. Menurut kisah Dedi Mulyadi ia sangat sulit dilahirkan oleh ibunya sebab butuh beberapa hari. Masa kecilnya ia habiskan untuk mencari kayu bakar dan mengembala ternak. 
Dedi Mulyadi memiliki prinsip “berpikir keras dan bekerja keras.”


Dedi Mulyadi pernah tidak naik kelas ketika SD , namun ia tidak patah semangat untuk sekolah dan membuatnya berusaha untuk menjadi yang terbaik , balasannya setelah ia tinggal kelas pada ketika kelas 1 , ia kemudian selalu rangking 1 dan bakat kepemimpinannya sudah kelihatan semenjak kecil sebab ia selalu menjadi ketua kelas.
Dedi Mulyadi dijuluki “si Unyil” sebab memiliki tubuh yang kecil. Ketika SMP ia hars menempuh jarak 20 Km untuk bersekolah , ia mengayuh sepeda yang ia beli sendiri dengan uang tabungannya dan  hasil jual ternaknya. Walaupun “Unyil” ia memiliki kelebihan dalam public speaking , menyerupai pidato ceramah dan sebagainya. Sejak kecil ia sudah menyampaikan jiwa kepemimpinannya. Ketika Dedi Mulyadi SMA ia sangat giat dalam membantu ekonomi keluarga dengan berpfrofesi sebagai tukang Ojek dan tukang foto keliling.

Setelah lulus SMA , Dedi Mulyadi melanjutkan pendidikan di STH Purnawarman Purwakarta (sekarang UNPUR) , dan lulus pada tahun 1999. Tapi sebelum melanjutkan pendidikan di STHPurnawarman Purwakarta , Dedi Mulyadi gagal masuk AKABRI dan secaba TNI AD. Pada ketika kuliah sebagai pelopor ia sudah diperhitungkan dalam politik. Dedi Mulyadi ialah ketua HMI cabang Purwakarta pada ketika itu. Walaupun sibuk dengan organisasi dan kuliah , ia tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhannya.

Visi Dedi Mulyadi "Berbasis Kearifan Lokal dan Sembilan Langkah Menuju Digjaya Purwakarta.”
Pada tahun 1999 , Dedi Mulyadi menjadi anggota DPRD , jabatannya ialah sebagai ketua komisi E. Sehingga ia mulai dikenal dikalangan politisi , masyarakat , dan mahasiswa. Pada tahun 2003 , ia menjadi wakil Bupati Purwakarta. Melalui pemilihan secara eksklusif pada tahun 2008 , ia dipercaya menjadi Bupati Purwakarta , dan Tahun 2013 ia kembali terpilih menjadi Bupati Purwakarta dan masa pkepepmimpinannya akan berakhir pada tahun 2018.

KEBIJAKAN KEBIJAKAN UNIK DEDI MULYADI BUPATI PURWAKARTA , KLIK DISINI

 Baca juga Biografi Dahlan Iskan !!


Sumber:

Rabu, 13 September 2017

Joko Purwadi : Pengabdi Kaum Disabilitas / Part2

By tri nandar | At 02.23 | Label : | 0 Comments
https://rahasiartis.blogspot.com/
Beberapa pekerja (penyandang disabilitas) sedang membuat kerajinan dari kayu di Yayasan Penyandang Cacat Mandiri , yang diketuai oleh Joko Purwadi (Pengabdi Kaum Disabilitas)



Baca Part 1

Ketika kita bekerja untuk kebaikan , Allah selalu menunjukkan jalan
Pendidikan Joko Purwadi (Pengabdi Kaum Disabilitas)
Setelah lulus dari sekolah tinggi filsafat Joko ingin meneruskan pendidikan nya ke jenjang Sarjana atau S1 di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Mahakam. Dengan impian gelar yang sedikit lebih tinggi ketimbang sarjana muda yang sudah ia terima. Namun pada ketika itu cita cita untuk meraih gelar S1 terhalang. Terhalang bukan alasannya yaitu biaya , bukan alasannya yaitu tidak mendapat restu orang tua; ialah syarat. Syarat , suatu ketentuan yang harus dipenuhi untuk dapat mengenyam pendidikan yang mampu memberi gelar S1 : harus memiliki pengalaman kerja selama minimal satu tahun! Begitu berbedanya dengan ketika ini :  Siswa lulusan SMA yang sama sekali belum pernah menyentuh pekerjaan dapat dengan mudah mendaftarkan diri ke Perguruan Tinggi yang dikehendaki. Tentu saja dengan modal kepandaian yang di ukur dari perolehan nilai sewaktu duduk di dingklik belakang meja SMA. Ada juga yang melewati jalur tes , lebih dikenal dikalangan pelajar dengan akronim kondang “SBMPTN” (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Harus mengisi soal ujian tertentu dan mendapat nilai rata-rata yang tinggi biar mampu diterima. Dengan nilai rata – rata tinggi , calon mahasiswa dapat mengalahkan tentangan mereka , sesama pelajar SMA untuk memasuki akademi tinggi negeri yang didambakan. Dari itu semua tidak ada syarat harus sudah kerja satu tahun , entah apa alasan dibalik syarat wajib sudah bekerja selama 12 bulan itu. Tetapi  Joko yaitu seorang perjaka yang tidak gampang menyerah. Lakukan. Ia mencari pekerjaan demi memenuhi syarat sang pintu gerbang akademi tinggi.
Pepatah bilang , “semakin tinggi layang - layang terbang , semakin besar angin yang akan menerpa”. Kalimat orang bijak itu sangat pas dengan keadaan Joko waktu itu. Belum selesai bekerja satu tahun , Tanah Air Indonesia sudah memanggil nya untuk melaksanakan wajib militer. Wajib militer atau seringkali disingkat sebagai wamil yaitu kewajiban bagi seorang warga negara berusia muda terutama pria , biasanya usia antara 18 - 27 tahun (dibawah usia 50 tahun di Indonesia) untuk menyandang senjata dan menjadi anggota tentara dan mengikuti pendidikan militer guna meningkatkan ketangguhan dan kedisiplinan seorang itu sendiri (Wikipedia). Sebagai warganegara yang baik , Joko tentu saja memenuhi panggilan Ibu Pertiwi. Meskipun latarbelakang keluarganya bukan militer. Hanya pakdhe atau kakak laki – laki dari orang tuanya yang seorang militer. Menempuh jenjang pendidikan militer dari wajib militer angkatan tahun 1984. Setelah berjuang menjalani pendidikan layaknya prajurit , final nya Joko dinyatakan lolos tes.  Tidak berhenti di sana , Joko lantas melanjutkan pendidikan sebagai wamil diangkatan tahun 1984-1985 di Bandung (Sekarang Magelang).
Bersambung...
DOWNLOAD TULISAN NYA DI SINI

Sabtu, 09 September 2017

Joko Purwadi : Pengabdi Kaum Disabilitas / Part3

By tri nandar | At 14.23 | Label : | 0 Comments


baca dulu part1 dan part2
Hasil karya disabilitas
Gambar diatas merupakan salah satu hasil karya penyandang disabilitas di Yayasan Penyandang Cacat Mandiri yang di ketuai oleh Joko Purwadi

Dunia menunjukkan dongeng yang berwarna kepada Joko. Saat melaksanakan dinas di Samarinda , Joko berhasil mendaftar dan meluluskan dirinya sebagai Sarjana Bidang Jurnalistik di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Mahakam. Begitulah kisah pendidikan perguruan tinggi tinggi Joko Purwadi. Tentu saja usaha nya dulu tidak semudah ibarat usaha membaca dan membayangkan nya dari goresan pena ini.
Sebagai seorang militer , peran pertama yang di tanggung Joko ialah menjadi perwira Pembina mental. Sudah pasti tugasnya ialah membina mental para prajurit untuk memiliki jiwa korsa dan cinta tanah air. Hal ini sesuai dengan disiplin ilmu yang dikuasai oleh Joko. Karena seorang prajurit tidak cukup hanya dengan memiliki kemampuan fisik yang baik dan jitu menembak musuhnya , harus lah mental yang berani mereka miliki juga. Ia menjalani tugasnya di Samarinda , Ibu Kota Kalimantan Timur.
Kehidupan Joko selama menjadi penggembleng mental prajurit bukan sepenuhnya penuh ketegasan dan kedisiplinan ala militer Indonesia. Disisi lain , setelah ia menjalani dinas selama enam bulan , ia menikahi gadis cantik idaman nya. Gadis yang dikenalnya sedari dulu , semenjak ia mengenyam pendidikan di Kampus Kateketik Pradnyawidya Yogyakarta. Dengan penuh ketulusan dan kejujuran Joko mengaku tidak cerdik mencari pacar , maka dari itu sahabat wanita satu kampus sendiri yang bisa ia jadikan kekasih. Dengan sedikit tertawa , mungkin geli akan dirinya sendiri beberapa tahun yang lalu Joko menceritakan hal itu. Rosa Ariwati. Nama wanita yang diceritakan Joko sedari tadi yang juga istri setianya. Wanita Kologendang , Ngawen , Muntilan yang lahir pada 5 Agustus 1962. Yang menjadi ibu dari tiga anak Joko. Mengikat janji suci setia sebaga suami istri pada tanggal 29 Januari 1986. Dengan Muntilan – kawasan di utara Kabupaten Magelang - tempat kelahiran sang istri tercinta yang menjadi saksi sumpah setia mereka berdua. Begitu hafal dan fasihnya ia mengingat dan menceritakan kesepakatan nikah nya 30 tahun silam.
Hanya sedikit hal yang diceritakan Joko mengenai kisah asmara dan keluarganya. Setelah bernostalgia dengan gelora cinta dirinya sewaktu muda , Joko kembali menjelajahi ingatan nya. Satu per satu ia jumputi kenangan hidup nya. Kembali ia menceritakan perihal pengalaman nya sebagai seorang prajurit. Pada ketika bercerita , Joko yang sedang membersihkan manik - manik merah dari kotoran menggunakan cutter itu nampak begitu tenggelam. Tenggelam pada masa lalu , seakan ia sedang bangkit pada waktu yang telah lampau itu. Pandangan matanya begitu dalam hanya untuk seorang yang sedang membersihkan manik – manik. Ia membawa pendengar dongeng nya dan juga dirinya sendiri pada peran nya yang terakhir di Timor Timur.
Ia menegaskan , bahwa peran dinas terakhirnya di Timor Timur ialah satu yang paling berkesan. Jika dirangkai ulang tanpa bermaksud mengubah pokok pikiran Joko begini ceritanya : pada ketika itu ia sedang bertugas di Timor Timur dan bertepatan dengan diadakan nya Referendum , yang mana Timor Timur akan diberikan pilihan lebih besar otonomi dalam Indonesia atau merdeka. Timor Timur ialah kawasan yang menjadi rebutan negara negara penjajah. Ialah Belanda , kemudian Portugal setelah berhasil merebut dari Jepang pada ketika Perang Dunia II. Sesuai background nya sebagai seorang jurnalis , Joko menampung para wartawan di tempat ia berdinas. Waktu itu keadaan begitu chaos. Hingga membuat sulit nya bagi Joko dan rekan wartawan untuk menerima materi makanan. Bahkan uang tidak bisa digunakan hanya untuk sekadar membeli nasi. Karena memang pada ketika itu tidak ada “warung yang buka” , kenang Joko. Para pejuang itu hanya bisa memakan mi instan dan ikan asin sebagai pengenyang perut mereka. Namun ditengah tengah ketidaknikmatan itu , salah kerikil wartawan senior Albert Kuhon berhasil membuat Joko mendapat kenangan terindah nya selama menjadi tentara. Albert Kuhon berkata kepada rekan seperjuangan nya sembari menikmati mi instan dengan paduan ikan asin , “ini ialah makanan paling enak yang pernah saya rasakan”. Kalimat sesederhana itu , berhasil menggoreskan kenangan yang mendalam di hati dan ingatan Joko.

Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. Rahasia Artis - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Blog Bamz